Kelurahan Cengkeh Turi merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Binjai Utara Kota Madya Binjai Provinsi Sumatera Utara. Kawasan ini menjadi pusat perhatian masyarakat dan pemerintah setempat, sebab Lingkungan VI Kelurahan Cengkeh Turi yang sudah tiga tahun dibina Astra sebagai Kampung Berseri Astra (KBA) sangat menonjol dibandingkan lingkungan lainnya.

Adalah wanita yang menyebabkan lingkungan VI ‘mencuri’ perhatian banyak orang. Betapa tidak, dari tangan para wanita di daerah inilah muncul sejumlah prestasi, baik dari sisi pendidikan, kesehatan, usaha kecil dan menengah (UKM), apotik hidup, kebersihan lingkungan dan bercocok tanam ala hidroponik. Alhasil Walikota Binjai pun menetapkan Lingkungan VI Kelurahan Cengkeh Turi menjadi pusat percontohan di daerah tersebut.

Meski suami yang menjadi kepala keluarga, tak salah juga tentunya isteri ikut meningkatkan kesejahteraan keluarga. Di kawasan ini, isteri yang menjadi pegawai tergolong sedikit. Namun diyakini, kalau ada kemauan ada saja cara meningkatkan ekonomi keluarga, membuat kerajinan, juga termasuk bercocok tanam meskipun halaman rumah sempit dan tidak memiliki kebun, yaitu bercocok tanam ala hidroponik.

Menurut Kepala Cabang Auto2000 Binjai, Suriyawano, yang juga Ketua Pembina KBA Cengkeh Turi Binjai, UKM yang menonjol adalah kerajinan tangan, dimana hasilnya dijual secara offline dan online. Menurutnya Astra juga melakukan edukasi pemasaran offline dan online. Bahkan karyawan Astra Grup di Medan juga jadi konsumen kerajinan tangan kaum ibu dari KBA Cengkeh Turi.

Ibu-ibu di Lingkungan VI KBA Cengkeh Turi belajar bersama merangkai bunga

Ketua Pilar UKM dari warga setempat, Siti, menjelaskan beragam kerajinan tangan yang mereka hasilkan, seperti merangkai bunga, sulaman Taplak Meja, Boneka, Pot Bunga Plastik, Sulaman Cover Guci.”Untuk kerajinan tangan ini, kita dibina oleh tim dari Kota Medan yang difasilitasi oleh Astra. Untuk menambah wawasan kami soal kerajinan tangan dan akses pasar, kami diberangkatkan Astra mengikuti pameran di Malaysia. Hasilnya luar biasa, kami sudah bisa pasarkan hasil kerajinan tangan ke luar negeri. Jadi ibu-ibu di Lingkungan VI ini terus sibuk, baik mengikuti pelatihan dan sibuk menghasilkan kerajinan tangan. Hasilnya ya tentu luar biasa, lebih dari cukup menambah kesejahteraan keluarga”,ujarnya.

Siti di Stand Pameran UKM di Penang Malaysia

Menurutnya banyak ibu-ibu dari lingkungan lain belajar sama mereka. “Kita senang mereka datang belajar, sebab itulah tujuan program KBA di daerah kami ini. Kami dimaksudkan bisa menjadi inspirasi bagi warga lain, dan dengan senang hati kami melakukannya. Adalah kebahagiaan luar biasa bagi kami, kalau kami bisa membantu warga lain seperti halnya kami sudah dibantu Astra”,katanya.

Sementara itu, Hidroponik menjadi cara menanam tanaman yang sedang ‘naik daun’ di daerah ini. Cara ini digemari karena untuk menanam tumbuhan tidak lagi diperlukan tanah dan lahan yang luas. Dengan memakai cara menanam hidroponik, maka  tidak perlu lagi memusingkan diri akan menanam di mana, karena kita bisa menanam di mana pun. Kita bisa menggunakan bahan bekas dan bisa menggantungkannya di tembok. Tidak hanya itu saja, media bertanam menggunakan air ini bisa mengasah kreativitas kita untuk mengolah dan menciptakan media baru untuk bercocok tanam.

Cara menanam hidroponik menggunakan beberapa cara. Pertama menggunakan NFT (Nutrient Film Technique) adalah cara yang paling populer yang digunakan oleh banyak orang dalam mengaplikasikan cara menanam hidroponik. Kedua, menggunakan WICK. Cara kedua menanam hidroponik ini juga tidak kalah terkenal dengan cara pertama. Cara ini disukai karena pembuatannya yang mudah serta bahan-bahan yang mudah didapatkan serta murah. Bahkan kita bisa menggunakan barang bekas.

Rachmayetty, praktisi hidroponik ketika memberikan sosialisasi bercocok tanam Hidroponik di Lingkungan VI Kelurahan Cengkeh Turi Binjai

Banyak hal diajarkan oleh Syifa Hidrofonik asal Kota Medan lewat pemiliknya yaitu Raden dan isterinya Rachmayetty. Kedua praktisi hidroponik ini difasilitasi Astra kepada warga di Kampung Berseri Astra ini. Pembinaan dan pelatihan bercocok tanam hidroponik ini telah mampu meningkatkan kesejahteraan warga sekitar.

Rachmayetty dan suaminya Raden, tidak hanya mensosialisasikan bertanam hidroponik, tapi juga mengedukasi mereka bagaimana mengolah hasil tanaman hidroponik menjadi produk olahan, seperti kue Kangkung Rendang, “Cara pengolahannya mudah dan praktis. Tapi ibu-ibu disini masih fokus bercocok tanam ala hidroponik, kedepan kita akan lebih intens mengajari mereka membuat aneka kue dari hasil panen hidroponik tersebut, sehingga lebih punya nilai jual”,pungkasnya.

Kepala Lingkungan VI, Trio Suci (foto utama), dimana tanaman sayur ala hidroponik miliknya menjadi pilot project di KBA Cengkeh Turi Binjai ini, menanam selada, kangkung dan sawi dengan metode hidroponik. Menurutnya hasil tanaman tersebut bukan hanya dikonsumsi sendiri, tapi juga sudah dijual ke pasar dan mampu menambah penghasilan keluarga.

“Honor saya selaku kepala lingkungan ya tak memadai lah. Bercocok tanam dengan hidroponik ini sudah mampu menambah penghasilan keluarga.Saya sudah panen berkali-kali loh, hasilnya bisa menambah pembayaran uang kuliah anak saya yang kuliah di Medan. Selain itu, saya juga mengajari ibu-ibu yang lain yang tertarik bercocok tanam hidroponik, yang tidak hadir pada pelatihan beberapa waktu lalu dengan Syifa Hidroponik dari Medan yang dihadirkan Astra untuk membantu kesejahteraan warga disini”,ujarnya.

Menurutnya dari 468 kepala keluarga di Lingkungan VI yang seluas 28 hektare tersebut, baru 45 persen keluarga yang bercocok ala hidroponik. Menurutnya partisipasi tersebut akan terus didorong lewat testimoni keluarga lain yang juga sudah menjual hasil tanaman dengan metode hidroponik tersebut, sehingga selain menghemat biaya membeli sayur, bahkan mampu menambah penghasilan keluarga.

“Sebenarnya dengan tidak membeli sayur saja lagi ke pasar setiap hari sudah membantu keuangan keluarga, karena tidak keluar lagi uang untuk itu. Apalagi dengan bisa menjualnya ke pasar, kita akhirnya sangat beruntung. Istilahnya untung dua kalilah. Inilah yang saya sampaikan kepada ibu-ibu di lingkungan saya”,tambahnya.

Rita, menanam kangkung dan sawi China dengan metode hidroponik

Rita, Ketua Pilar Hidroponik yang juga bercocok tanam sayuran ala hidroponik ini mengatakan, ia menanam dua jenis sayuran, yaitu kangkung dan sawi China. “Nanam kangkung sudah bisa panen dalam tiga minggu. Awalnya saya berpikir kenapa harus beli kalau toh bisa ditanam di halaman tanpa menggunakan tanah. Apalagi keluarga lebih sehat, karena bercocok tanam ini tidak menggunakan pestisida, hanya menggunakan vitamin air yang kita dapatkan dari ibu kepala lingkungan. Setelah saya coba, suami pun ikut mendukung. Alhasil kami sekeluarga konsumsi sayur dari tanaman ini. Bahkan sudah kita jual juga. Sebagai Ketua Pilar Hidroponik saya mengajari ibu-ibu yang lain”, ungkapnya ditemani sang suami yang bertugas di Polres Langkat ini.

Fani memperlihatkan kangkung siap panen yang ditanamnya dengan metode Hidroponik

Hal yang sama juga diceritakan Fani yang rumahnya tidak jauh dari rumah kepala lingkungan. Ibu rumah tangga yang kesehariannya menjual alat-alat sekolah di halaman sekolah ini mengatakan tertarik dengan sosialisasi yang dilakukan Syifa Hidroponik yang difasilitasi Astra.

“Begitu keluar sekolah ya saya pulang dari jualan. Sorenya saya beres-beres tanaman kangkung dan sawi ala hidroponik ini. Kami sekeluarga ketagihan tuh makan sayur kangkung dan sawi. Alhasil saya kembangkan terus, toh tidak repot mengurusnya. Bibit dan vitaminnya dikasih kepala lingkungan, tinggal merawat aja. Panen sayur ini pun saya jual juga ke pasar, atau kepada tetangga yang kebetulan lewat dan lihat tanaman kangkung lebat daunnya. Jadi penghasilan saya tidak hanya dari jual alat-alat sekolah lagi, tapi juga dari jualan sayur ini, suami pun senang, karena tambahan pendapatan ini bisa membayar uang sekolah anak saya yang sudah duduk di bangku SMP”,jelasnya. (Mangasi Butarbutar/Kampusmedan.com/Medan)

Tulis komentar melalui Facebook
Bagikan.