KampusMedan – Jakarta, Pegawai Bank Indonesia (BI) tetap mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR).Namun sebagian THR dan gaji disisihkan untuk bantuan penanganan coronavirus disease 2019 (Covid-19).Dalam rilis BI yang diterima KampusMedan.com, disebutkan pemotongan sebagian gaji dan THR untuk bantuan tersebut dilakukan sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian BI terhadap masyarakat terdampak Covid-19 dan dukungan dalam penanganan pandemik virus tersebut melalui “Gerakan BI Peduli Covid-19”.

“Total dana yang dihimpun dari gaji pegawai selama 6 bulan ke depan itu diperkirakan mencapai Rp101,4 miliar,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo, dalam media briefing, Rabu (29/4/2020). Menurutnya, gerakan tersebut dilaksanakan antara lain melalui inisiatif pegawai BI yang menyisihkan sejumlah tertentu dari THR terhitung sejak Mei hingga Oktober. Kontribusi ini diberlakukan seluruh Anggota Dewan Gubernur dan pegawai kecuali pegawai level staf ke bawah.

Disebutkan juga pengelolaan dan penyaluran dana dari penyisihan THR dan gaji pegawai ini seluruhnya akan dilaksanakan Ikatan Pegawai Bank Indonesia (IPEBI. Selain itu, Gerakan BI Peduli COVID-19 tersebut juga termasuk penyaluran bantuan sosial BI dalam Program Dedikasi untuk Negeri dan pengumpulan donasi pegawai secara sukarela yang telah dilaksanakan sejak Maret 2020.

Dalam keterangan itu juga dikatakan Perry, BI memperkirakan pembiayaan defisit fiskal untuk penanganan wabah Covid-19 akan mencapai Rp1400 triliun.Menurutnya pelebaran pembiayaan defisit bisa dipenuhi dari saldo kas pemerintah, baik yang ada di bank sentral maupun di perbankan.Selain itu, pemerintah juga bisa menggunakan dana BLU, pinjaman dari ADB, bank dunia, dan dari penerbitan obligasi di valuta asing (valas). Dengan sumber-sumber tersebut, mampu menutup sekitar Rp500 triliun.

Dengan demikian ada sisa Rp900 triliun dikurangi dengan anggaran yang sudah dialokasikan untuk tambahan belanja penanganan Covid-19 sebesar Rp225 triliun, terdiri dari anggaran untuk kesehatan Rp75 triliun dan jaring pengaman sosial Rp110 triliun, kemudian insentif bagi industri Rp70 triliun. Sisanya berarti ada Rp900 triliun, yang sudah dikeluarkan sekitar Rp225 triliun, berarti ada lagi sisa Rp675 triliun,” tambah Perry.

Kemudian dana Rp675 triliun tersebut akan dianggarkan untuk pemulihan ekonomi sebesar Rp150 triliun.Namun ia mengaku belum mengetahui anggaran pemulihan ekonomi akan didukung dari pasar atau tidak.Kedua, dari kebijakan Giro Wajib Minimum (GWM) dari bank sentral yang diturunkan sehingga kemudian bank-bank akan membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana.Hal ini mampu menutup sekitar Rp100 triliun.

Lebih lanjut, pembiayaan defisit fiskal akan berasal dari sisa lelang yang akan digelar pemerintah hingga akhir tahun.Apabila dari sisa lelang di sepanjang tahun ini, ditaksir mampu menutup hingga Rp425 triliun.“Kalau hitung sisa lelang sampai dengan akhir tahun itu, kebutuhan dari lelang sebetulnya tidak kemudian melonjak tinggi. Target lelang yang diumumkan pemerintah cukup untuk memenuhi pembiayaan fiskal,” tandas Perry Warjiyo.(REL/MBB)

Tulis komentar melalui Facebook
Bagikan.