KampusMedan – Karawang, Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) melaksanakan kegiatan wisuda Gelombang I Tahun Akademik 2018/2019 pada 18-20 Desember 2018 di Aula Unsika. Terdapat 1.274 lulusan yang mengikuti kegiatan wisuda, terdiri dari 33 lulusan tingkat Magister (2 Program Studi) dan 1.241 orang Sarjana (17 Program Studi). Kegiatan wisuda dilaksanakan sejak Selasa sampai Kamis terdiri dari lima sesi.

Pada sesi terakhir, terjadi momen yang mengharukan ketika Rektor Unsika melantik 8 petugas kebersihan kampus dan seorang satuan pengamanan (satpam) kampus yang telah berhasil menempuh jenjang pendidikan sarjana. Petugas kebersihan yang mengikuti prosesi wisuda adalah Iwan, Hamdani, Abdulah, Mahfud, Mansyur Inayah, Subani, Yayat Suryatna, sedangkan yang berprofesi satpam adalah Irwan Susanto. Mereka kini berhak memiliki gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) sebagai lulusan Program Studi S1 Pendidikan Luar Sekolah (PLS) pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Para karyawan Unsika tersebut mulai kuliah sejak 2014, beberapa saat sebelum Unsika menjadi Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Di tengah keterbatasan pendapatan dan kemampuan, semangat mereka memberikan inspirasi. “Saya sering lihat kalau malam, setelah atau sebelum bersih-bersih ruangan rektorat, Mang Dani (Hamdani, red) buka laptop. Saya tanyakan katanya sedang ngerjain skripsi. Semangatnya menginspirasi,” ucap Faizal Arifin, seorang staf di Bagian Akademik.

Irwan Susanto, seorang satpam yang dilantik bahkan memiliki IPK diatas 3,5, sehingga memiliki predikat Cum Laude (Dengan Pujian). “Pak Irwan (Irwan Susanto-red) paling rajin kuliah, kalau ada jam kuliah biasanya langsung ganti kostum dan langsung ke ruangan kelas,” lanjut Faizal.

Menurut Sutarjo, dosen di FKIP Unsika, para petugas kebersihan dan satpam ini sempat akan berhenti kuliah pada semester 3, tepatnya tahun 2016 karena alasan tertentu. Namun akhirnya berhasil dimotivasi, “Kemudian saya diskusi dan memotivasi mereka, Alhamdulillah, hari ini mereka meraih keberhasilan menjadi sarjana,” ungkap Sutarjo.

Kerja kerasnya penjaga (sebutan office boy di Unsika-red) dalam mengejar wisuda sangat luar biasa, mereka sangat bersungguh-sungguh ingin mendapatkan gelar strata satu ini,” ungkap M. Rizki Fauzi Suharto, seorang staf di LPPM, sekaligus wisudawan dan teman satu kelas dengan para petugas kebersihan dan satpam yang diwisuda. “Saat proses bimbingan skripsi hingga proses sidang mereka selalu serius,” lanjut Fauzi.

Iyong (Iwan-red), kalau tidak ada halangan pekerjaan yang mendesak selalu masuk kuliah. Iyong bisa membagi waktu antara kuliah dengan pekerjaan. Menurut Adnan Malik Hashemi, seorang Kabag TU di Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom). Dalam menyelesaikan tugas kuliah dan skripsi, ia tak sungkan untuk mencari ilmu dan bertanya pada dosen-dosen di Fasilkom, tempatnya bekerja. “Sehingga Iyong banyak membantu rekan-rekannya dalam penyusunan tugas dan skripsi,” lanjut Adnan.

Unsika memberikan dukungan nyata dalam rangka meningkatkan kualitas karyawannya. Salah satunya adalah memberikan keringanan biaya pendidikan bagi petugas kebersihan dan satpam kampus yang memiliki keinginan kuat untuk menempuh pendidikan. Selain itu Unsika memberikan izin atau dispensasi untuk meninggalkan pekerjaan jika mengikuti kuliah atau melaksanakan ujian. Apa yang dilakukan Unsika menjadi inspirasi, agar konsep Long Life Education diterapkan di kampus-kampus secara nyata dan agar akses pendidikan tidak hanya didominasi oleh orang-orang berpendapatan menengah ke atas.

“Tidak banyak Perguruan Tinggi yang mencetak orang-orang yang mohon maaf dianggap ‘diremehkan’ atau para pekerja ‘rendahan’ dengan profesi office boy, yang tidak dilirik oleh sebagian orang karena hidupnya sederhana dan tidak beruntung seperti orang kaya pada umumnya,” ungkap Dr. Sutarjo, yang pernah menjadi office boy di Unsika tahun 1983-1987, kemudian lulus S1, dan saat ini menjadi dosen dan telah memiliki gelar S3 dari sebuah perguruan tinggi di Bandung.

Kerja keras dan perjuangan para petugas kebersihan dan satpam di Unsika yang berhasil menempuh jenjang sarjana, menjadi inspirasi untuk membumikan konsep Man Jadda wa Jada (Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil). Tidak ada kata terlambat dalam menempuh pendidikan tinggi. Jangan jadikan keterbatasan pendapatan dan kemampuan menjadi penghambat pendidikan.(REL/MBB)

Tulis komentar melalui Facebook
Bagikan.