KampusMedan – London, Institut Teknologi Massachusetts (MIT) kembali dinobatkan sebagai perguruan tinggi terbaik dunia 2019-2020 versi lembaga pemeringkatan Quacquarelli Symonds (QS) World University Rankings.Di Indonesia, sejumlah kampus berhasil naik peringkat seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Posisi UGM naik ke urutan ke-320 dari sebelumnya 391. Adapun ITB menjadi 331 dari 359 pada periode sebelumnya.

Sementara itu Universitas Indonesia (UI) masih memimpin sebagai kampus terbaik di Indonesia. UI berada di urutan ke-296. Namun peringkatnya terus melorot. Pada 2018, posisi UI berada pada urutan ke-277, kemudian pada 2019 di posisi ke-292. Dari penilaian QS, UGM naik 71 peringkat bila dibandingkan dengan tahun 2018 yang menempati urutan ke-391.

Kenaikan posisi ini juga menempatkan UGM sebagai perguruan tinggi terbaik kedua di Indonesia setelah UI. Sebelumnya UGM berada di urutan ketiga setelah ITB. Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun ini berada di urutan ke-601-650 atau naik dari sebelumnya 701-750.

Universitas Airlangga di 651-700, Universitas Padjajaran (Unpad) di 751-800, Universitas Bina Nusantara (Binus), Universitas Diponegoro (Undip) dan Institut Sepuluh Nopember (ITS) di 801-1.000 Rektor UGM Panut Mulyono mengatakan, capaian UGM ini merupakan hasil dari proses perbaikan dalam peningkatan kualitas. Terutama proses yang mendukung pengakuan atas reputasi akademik dan dampak UGM di dunia.

“Jadi capaian ini bukan tujuan yang dikejar UGM, tetapi hasil dari proses itu. Namun peringkat ini menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mendongkrak kepercayaan dunia internasional terhadap UGM,” kata Panut saat menjelaskan capaian peringkat UGM versi Quacquarelli Symonds World University Ranking (QS WUR) 2019 di ruang rapat pimpinan kampus setempat, sore kemarin.

Atas hasil ini UGM akan terus melakukan berbagai perbaikan dalam proses dan sistem akademik. Apalagi tantangan untuk mewujudkan kepemimpinan dalam berbagai bidang semakin berat. Karena itu upaya-upaya strategis yang sifatnya jangka panjang harus dapat digeser menjadi strategi pencapaian jangka pendek dan menengah.“Kualitas karya-karya akademik UGM harus ditingkatkan agar dapat menjadi rujukan serta menghasilkan impak yang dapat dirasakan dunia internasional,” paparnya.

Menurut Panut, warga kampus UGM perlu mengukir lebih banyak artefak ilmiah yang kontributif terhadap kemanusiaan. Hal ini dapat diukur dari sitasi karya-karya warga UGM oleh masyarakat internasional.Buku, karya seni, desain, dan inovasi UGM yang melimpah perlu dikelola sedemikian rupa agar keterbacaannya meningkat. “Salah satu indikatornya adalah karya-karya tersebut harus memiliki sitasi yang tinggi,” jelasnya.(OKZ/MKM)

Tulis komentar melalui Facebook
Bagikan.