KampusMedan – Medan, Pada Teiwulan I (TW I/2020) Ekonomi Sumatera Utara (Sumut) bertumbuh 4,65 % dibandingkan periode yang sama tahun 2019. Angka ini diatas rata-rata
pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya bertumbuh 2,97%. Dengan kondisi ini ekonomi Sumut jadi peringkat kedua di Sumatera, dibawah Sumatera Selatan yang mencapai 4,98%.

Meskipun mengalami pertumbuhan, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumut, Wiwiek Sisto Widayat memberikan sinyal kepada Pemprovsu supaya benar-benar mewaspadai penurunan pertumbuhan rkonomi pada TW II dan TW III tahun 2020. “Dibandingkan TW IV/2019, maka pertumbuhan ekonomi Sumut ini mengalami penurunan dari 5,31% menjadi 4,65%. Pada TW II dan III/2020 kami prediksi akan terjadi penurunan ekonomi yang semakin dalam, hal ini diakibatkan oleh penurunan daya beli masyarakat. Penurunan daya beli masyarakat akan memaksa penurunan produksi industri”,ujarnya kepada media lewat pertemuan virtual, Jumar (8/5/2020).

Wiwiek memperkirakan pada TW II/2020 ekonomi Sumut hanya bertumbuh 1,5% hingga 1,9%, pada TW III/2020 hanya akan bertumbuh 2% hingga 2,5%, dengan asumsi Covid-19 sudah usai di akhir Juni 2020. “Kalau kondisi Covid-19 makan waktu panjang misal sampai Desember 2020, maka ekonomi Sumut akan mengalami kondisi terberat yaitu hanya bertumbuh 1,2% hingga 1,6%. Kita berharap kondisi covid-19 cepat teratasi”,ujarnya.

Ditanya upaya yang bisa dilakukan Pemprovsu mengantisipasi kondisi buruk ekonomi Sumut, Wiwiek mengatakan dalam jangka pendek Pemprovsu harus mampu mendorong peningkatan daya beli masyarakat. “Banyaknya pengangguran kan memperlemah daya beli masyarakat. Maka dalam jangka pendek ini yang harus didorong pemerintah daerah, misalnya dengan mendorong kegiatan ekonomi padat karya. Misalnya mendorong kegiatan bisnis pembuatan masker, face shield, mendorong perdagangan sistem online, jasa pengantaran perdagangan online”,tandasnya.

Soal sektor bisnis penyumbang pertumbuhan ekonomi Sumut, menurut Wiwiek antara lain sektor Pertanian, sektor perkebunan (CPO,Karet.Kopi) dan perdagangan. Meski mengalami pertumbuhan, ini juga harus menjadi perhatian Pemprovsu, karena ekspor CPO dengan pasar utama China juga diprediksi menurun, karena kondisi ekonomi China juga belum stabil meskih sudah mulai pulih dari Covis-19. Kemudian pasar ekpor utama karet ke India juga diprediksi menurun dengan kondisi ekonomi yang juga belum pulih.

Dari sisi perbankan, Bank Indonesia tetap mendorong perbankan di Sumut untuk komit menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR), sebab KUR mampu mendorong kegiatan ekonomi di sektor UMKM, misalnya perdagangan eceran, termasuk perdagangan online. “Debitur KUR ini mencapai 58.000 orang, paling banyak diantara mereka meminjam Rp50 juta, ini dapat mendorong bisnis kecil tadi. Semoga dengan peningkatan perdagangan eceran termasuk kuliner karena stay at home bisa menambah daya dorong lokomotif ekonomi Sumut, sebab bunganya disubsidi pemerintah”,harapnya.

Ditanya perihal likuiditas masyarakat, Wiwiek mengatakan Bank Indonesia sudah memberikan tambahan likuiditas senilai Rp503 triliun, antara lain membeli SBN dan menjadikannya sebagai ase Bank Indonesia, GWM valas dan rupiah di pasar primer maupun pasar sekunder. Bank Indonesia sudah melonggarkan kuantitatif sxejak 2 Maret 2020, sesuai hasil RGD 13-14 April 2020 misalnya yang menurunkan BI 7-Day Repo Rate ke level 4,5%.(RED/MBB)

Tulis komentar melalui Facebook
Bagikan.