Sabtu , 20 Januari 2018
Home / Bisnis / Inflasi Sumut 2017 Terjangkar Pada Sasarannya
Direktur Eksekutif Kantor Perwakilan bank Indonesia Sumut, Arief Budi Santoso

Inflasi Sumut 2017 Terjangkar Pada Sasarannya

KampusMedan – Medan, Menutup tahun 2017 inflasi Sumatera Utara terkendali pada level di bawah pola historisnya (0,94% mtm, rata-rata inflasi Desember 5 tahun terakhir). Sesuai pola musimannya, inflasi IHK di bulan Desember tercatat sebesar 0,70% (mtm), meningkat dibanding bulan sebelumnya (0,42% mtm).

“Dengan demikian, harga barang dan jasa secara umum di tahun 2017 menunjukkan perkembangan yang positif, yakni tercatat 3,20% (yoy), atau berada dalam kisaran target Bank Indonesia (4+1%). Realisasi ini berada di bawah inflasi nasional sebesar 3,61% (yoy) dan juga jauh lebih rendah dibandingkan dengan inflasi 2016 (6,34% yoy). Capaian tersebut sangat penting untuk mengarahkan ekspektasi inflasi masyarakat pada sasaran inflasi”,ujar Direktur Eksekutif Kantor Perwakilan bank Indonesia Sumut, Arief Budi Santoso, Kamis (4/1/2018).

Menurutnya, terkendalinya inflasi 2017 didorong oleh rendahnya inflasi volatile food yang tercatat 2,43% (yoy), terendah dalam 4 tahun terakhir, seiring upaya Pemerintah untuk menjaga pasokan dan kelancaran distribusi bahan pangan. Inflasi inti juga tercatat rendah sebesar 2,27% (yoy), sejalan dengan konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengarahkan ekspektasi inflasi disamping daya beli masyarakat yang masih lemah. Sementara itu, tekanan inflasi terutama dampak dari kenaikan tarif listrik, cukai rokok dan STNK sehingga inflasi administered prices di akhir tahun 2017 tercatat 6,70% (yoy).

Inflasi Desember 2017 terutama dipengaruhi oleh gangguan produksi khususnya beras karena banjir besar yang melanda sebagian wilayah Sumatera Utara. Dengan kondisi tersebut, komoditas beras memberikan andil inflasi bulanan sebesar 0,16%. Sementara itu, harga komoditas bumbu-bumbuan utama, seperti cabai merah dan bawang merah relatif terkendali seiring dengan intensifnya operasi pasar yang dilakukan oleh TPID Sumatera Utara yang berkerjasama dengan BULOG dalam menjaga pasokan dan peran Satgas Pangan dalam menjaga distribusinya di akhir tahun. Dengan perkembangan tersebut, inflasi Volatile Food sebesar 2,55% (mtm), meningkat dari bulan sebelumnya (1,22%).

Tekanan inflasi dari kelompok lainnya, yaitu kelompok Administered Prices (AP) dan kelompok inti relatif terkendali. Inflasi AP sedikit meningkat dari 0,08% (mtm) di bulan sebelumnya menjadi 0,27% (mtm). Peningkatan tersebut terutama didorong oleh kenaikan tarif angkutan udara yang memberikan andil inflasi sebesar 0,04% seiring dengan perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan masa liburan sekolah. Di sisi lain, tekanan inflasi kelompok bahan  bakar rumah tangga cenderung mereda seiring dengan pasokan gas elpiji 3kg yang sudah normal.

Relatif minimalnya dampak faktor musiman tercermin pada inflasi Inti yang tercatat menurun dari 0,10% (mtm) pada bulan sebelumnya menjadi 0,04% (mtm). Tekanan inflasi dari sisi permintaan belum kuat terkait dengan masih lemahnya daya beli masyarakat sejalan dengan perkembangan harga komoditas yang masih fluktuatif. Kondisi tersebut didukung oleh ekspektasi inflasi yang terpelihara dan nilai tukar yang stabil.

Secara spasial, disparitas inflasi kembali terlihat di 4 kota IHK Sumatera Utara. Di satu sisi, Padangsidimpuan dan Medan menjadi kota dengan inflasi tertinggi (0,87% dan 0,73%, mtm), sementara Pematangsiantar dan Sibolga mencatat inflasi yang relatif rendah (0,46% dan 0,38%, mtm).

Ke depan, risiko peningkatan tekanan inflasi diperkirakan masih moderat. Potensi peningkatan inflasi di awal tahun 2018 diperkirakan berasal dari sisi volatile food. Berlangsungnya musim penghujan diperkirakan akan berpotensi mempengaruhi pasokan pangan. Sementara itu, tekanan inflasi administered prices diperkirakan stabil dengan adanya keputusan pemerintah tidak akan menaikkan tarif listrik dan bahan bakar minyak (BBM) subsidi hingga 31 Maret 2018.

Namun, tren harga minyak mentah dunia yang terus meningkat perlu diwaspadai menjadi potensi risiko kenaikan harga BBM kedepannya. Dengan melihat risiko tersebut, TPID Provinsi Sumatera Utara perlu terus meningkatkan koordinasi baik di level provinsi maupun Kabupaten Kota dalam menggiatkan program-program pengendalian inflasi sesuai dengan roadmap pengendalian inflasi yang telah disusun. Hal ini diperlukan untuk menjaga inflasi 2018 tetap terjangkar pada sasarannya, yaitu 3,5±1%.(REL/MBB)

Check Also

Prima Yuliana, Presiden SHARP Greenerator 2018-2021

KampusMedan – Bogor, Sejak diluncurkan pertama kali pada tahun 2015, komunitas anak muda peduli lingkungan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *